Rabu, 08 Desember 2010

Makalah Kepemimpinan

KEPEMIMPINAN

(Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Lembaga Pendidikan Islam)









Penyusun:
Roheti
Mariah al Kibtiyah
Mujayanah

Dosen pembimbing:
Drs.H. Sofwan Manaf, M.Si


PROGRAM STUDI TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DARUNNAJAH
JAKARTA
AKADEMIK 2010 M/1432 H




BAB I

PENDAHULUAN
Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke Bumi, Ia ditugasi sebagai Khalifah fil ardhi. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 30 yang artinya: “ Sesungguhnya Aku mengangkat Adam menjadi khalifah dimuka bumi”. Dan pada hakikatnya dalam diri manusia adalah pemimpin bagi dirinya, anaknya, keluarganya, dan dalam masyarakat.
Menurut Bachtiar Surin yang dikutip oleh Maman Ukas bahwa “Perkataan Khalifah berarti penghubung atau pemimpin yang diserahi untuk menyampaikan atau memimpin. .
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa manusia telah dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada masa sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.



PEMBAHASAN

Pengertian Kepemimpinan ada berbagai macam versi / pandangan, namun definisi kepemimpinan secara umum adalah kemampuan untuk mempengaruhi untuk mendapatkan pengikut.
Tapi untuk memperkaya perbendaharaan pengetahuan kita, berikut tambahkan pengertian kepemimpinan yang Ditemukan dari berbagai sumber,
1. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan
2. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama
3. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
4. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu .
a. Pemimpin (Leader)
Adalah Seorang yang dapat menguasai orang-orang lain dan menggunakan kekuasaan ini dengan tujuan untuk mempengaruhi tingkah laku mereka
Menurut :
Robert Tannembaum & Fred Massarik
Pemimpin adalah Pengaruh antar pribadi yang dilaksanakan (terjadi) didalam suatu situasi, diarahkan melalui suatu proses komunikasi dan ditujukan pada tujuan tertentu.
b. Pemimpin di lembaga pendidikan
Pada prinsipnya setiap pengelolaan suatu lembaga pendidikan mensyaratkan adanya tipe pemimpin dan kepemimpinan yang mampu memperdayakan tanpa mengorbankan cirri khas atau kredibilitas pimpinan tersebut.
Dalam lingkungan pendidikan kepemimpinan dilaksanakan dalam kelompok kebijakan yang melibatkan sejumlah pihak di dalam tim program, di dalam organisasi guru, orang tua dan murid. Kepemimpinan yang membaur ini menjadi factor pendukung aktifitas sehari-hari di lingkungan pondok pesantren.
c. Otoritas
 Pengertian Otoritas
Otoritas ( authority ) dapat dirumuskan sebagai kapasitas atasan, berdasarkan jabatan formal untuk mempengaruhi prilaku bawahan dan membuat keputusan. Otoritas merupakan bukti didalam keseluruhan bidang masyarakat, dalam kehidupan organisasi sebagai manajer yang bertindak sebagai pengambil keputusan. Otoritas juga dapat di definisikan sebagai kekuasaan legal atau syah untuk melakukan perintah mengkomando tindakan dari yang lain.
 Sumber-sumber Otoritas
Di antara tiga tingkatan manajemen first level, middle, dan top , tingkat otoritas manajerial tertinggi di puncak menurun sampai ke bawah dalam organisasi. Garis otoritas ini dikenal sebagai rantai komando ( chain of command ) rantai komando ada jika seseorang menjadi bawahan dan yang lain. Rantai konsep komando sebagaimana ditunjukan oleh Buford, Jr & Bedelan sangat terkait dengan prinsip manajenen popular yang lain yaitu prinsip scalar dan prinsip kesatuan komando.
Prinsip scalar menyatakan bahwa garis otoritas yang tegas dan manajer puncak ke masing-masing jabatan bawahan mempengaruhi komunikasi dan pengambilan keputusan.
Prinsip kesatuan komando menyatakan bahwa untuk meminimalisasi konflik dan memaksilmalisasi tanggung jawab terhadap hasil seseorang harus malapor kepada atasan tunggal.
 Tipologi otoritas : Line and Staff
Line function berupa fungsi-fungsi yang memiliki tanggung jawab langsung untuk melaksanakan tujuan organisasi.
Para pegawai dalam rantai komando yang memerintah mereka agar tercapainya pelaksanaan tujuan organisasi disebut line.
Line dalam system persekolahan yaitu mencakup direktur kurikulum, direktur murid untuk kegiatan lapangan, dan direktur hubungan masyarakat.
Pemimpin program dan proyek dapat dipertimbangkan sebagai line tergantung sejauh mana staf spesialis yang melapis kepadanya dan terlibat dalam layanan langsung kepada klien. Dalam hal ini line autority barhak dan bertugas memberi komando tak terbatas. Tugas staf adalah mengkaji persoalan dan memberi informasi khusus yang membantu line manajer bakerja lebih baik. Bagian staf atau individu lantas melaksanakan functional autority yang terbatas kepada program-program praktik, kebijakan atau hal lain yang terspesialisasi.
d. Politik Organisasi
Teoritisi organisasi tertentu melihat organisasi sebagai arena pertempuran politik.
Pekerjaan staf manajemen memanfaatkan tugas dan tujuan kepegawaian untuk mencapai agenda sendiri yang nampak atau tidak nampak. Hubungan yang baik dengan pihak luar yang kuat dinilai sangat sangat penting bagi penegakan departemen dan individu. Menurut perspektif politik sulit untuk menentukan efektifitas organisasi secara keseluruhan, kepentingannya lebih banyak sejauh kelompok internal berhasil dalam memenuhi tuntutan kelompok kepentingan eksternal tertentu.
Dalam dunia sekolah pihak luar tersebut dapat berupa lembaga penyelenggara sekolah, orang tua, murid dan masyarakat usaha local. Menurut foster bahwa model politik cenderung mencakup pengertian tentang kultur dan loose coupling, walau hal itu langsung memfokus kepada proses sebagai negosiasi kolektif dalam lembaga pengembangan koalisi dan kelompok kepentingan dan persaingan untuk supremasi dan control organisasi.
e. Manajemen kebijakan / keputusan
Pemimpin seharusnya tidak saja tau kemana lembaganya akan dibawa tetapi juga mengetahui jalan yang harus ditempuh. Juga mengetahui halangan-halangan yang akan dihadapi dan sekaligus mengetahui cara untuk mengatasinya. Pemimpin juga harus mengetahui peta kekuatan dan kelemahan di semua bagian yang di pimpinnya.
Pemimpin juga berperan sebagai pengambil keputusan. Pemimpin yang berkualitas akan sanggup melahirkan keputusan yang berkualitas pula, yang sesuai dengan tujuan baik jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek. Jika ada suatu keputusan yang tidak terlalu menguntungkan bagi sebagian kelompok tidak akan jadi masalah, akan tetapi dilihat dari strategi untuk kepentingan jangka panjang. Itulah sebabnya pemimpin harus memiliki kemampuan untuk melihat jauh kedepan,dan tidak henti-hentinya mengkomunikasikan atau menjelaskan kepada semua pihak yang terlibat dalam kepemimpinannya itu.

f. Gaya Kepemimpinan
Dalam praktiknya ada tiga macam gaya kepemimpinan antara lain;
1. Otokratis yaitu pemimpin yang menganggap organisasi sebagai milik pribadi, mengidentikkan tujuan pribadi sebagai tujuan organisasi. menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, tidak mau menerima kritikan, saran dan pendapat. Mengandalkan pada kekuasaan formalnya, tindakan dalam menggerakkan bawahannya dengan pendekatan yang mengandung unsure paksaan dan bersifat menghukum.

2. Militeristik yaitu pemimpin yang memiliki sifat dalam menggerakan bawahannya dengan system perintah, bergantung pada pangkat dan jabatannya, menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, sukar menerika kritikan dari bawahannya, menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3. Paternalistik yaitu menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi ( over protective ) jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk inisiatif, mengembangkan kreasi dan fantasi,dan sering bersikap maha tahu.

4. Karismatik yaitu pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan memiliki pengikut yang jumlahnya sangat banyak, meskipun pengikutnya itu tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.

5. Demokratis yaitu dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah makhluk yang mulia di dunia, selalu berusaha mensikronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritikan dari bawahannya. Mengutamaka kerjasama dalam usaha mencapai tujuan, berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPEMIMPINAN
Untuk menjembatani antara kesuksesan sesaat dan keefektifan jangka panjang, Seorang pemimpin harus mengembangkan 3 kemampuan dalam bekerja sama dengan sejumlah orang. Kemampuan ini sangat penting bagi seorang manager di tempat kerja, orang tua di rumah, ataupun guru ketika mengajar di kelas. Karena itu, jenis keahlian yang diperlukan para pemimpin yang efektif dalam mempengaruhi perilaku orang lain dan bekerjasama dengan orang lain adalah:
• Pemahaman perilaku di waktu yang lalu
• Memperkirakan perilaku di masa mendatang
• Memimpin, mengubah dan mengendalikan perilaku
Dari sini, dapat dilihat bahwa tanpa aktivitas, memimpin, mengubah dan mengendalikan perilaku bawahan, maka seorang bawahan akan bersikap terus selamanya seperti di masa lampaunya. Organisasi yang berhasil memiliki sebuah siri utama yang membedakannya dengan organisasi yang tidak berhasil yaitu kepemimpinan yang dinamis dan efektif. Berbicara tentang pengertian kepemimpinan, banyak ahli yang memberikan definisi, namun secara umum kita dapat simpulkan dan sepakati kepemimpinan dalam pengertian sebagai berikut:
“Proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.”
Untuk menjelaskan lebih lanjut tentang kepemimpinan, teori-teori manajemen menyusun sebuah skala bertolak belakang, di satu pihak, gaya kepemimpinan akan digambarkan sebagai otokratis, sementara pihak lain demokratis. Gaya seorang pemimpin dapat digolongkan ke dalam dua kutub berlawanan ini.Jika seorang pemimpin telah terlatih dan tingkah laku bawahan telah terekam dengan baik, jelaslah bahwa label otokratis dan demokratis tidak perlu diperdebatkan lagi. Hasilnya adalah tingkah laku para pemimpin yang terlihat dan dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
• Perilaku dalam tugas: menyangkut sikapnya dalam memastikan bahwa bawahan melaksanakan pekerjaan sesuai yang diperintahkan.
• Perilaku hubungan: menyangkut bagaimana pemimpin menjalin relasi dengan bawahannya.
Penelitian menunjukkan bahwa kesuksesan seorang pemimpin dipengaruhi oleh lingkungan. Begitu antusiasnya para peneliti untuk meneliti lingkungan dan faktor-faktor yang dapat menentukan keefektifan seorang pemimpin, akhirnya mereka meneliti para pemimpin di tempat kerja. Ternyata ada berbagai faktor utama yang mempengaruhi gaya kepemimpinan.Faktor-faktor yang mempengaruhi situasi kepemimpinan adalah:
• Pimpinan
• Bawahan
• Atasan
• Asosiasi-asosiasi
• Tuntutan kerja
• Waktu
Penelitian menunjukkan bahwa ada satu variable penting di antara berbagai variable tersebut yakni hubungan antara pemimpin dan bawahan. Jika bawahan memutuskan untuk tidak patuh maka variable lainnya mungkin menjadi tidak penting. Jadi, bagi seorang pemimpin, penting baginya untuk memaksimalkan kemampuan mengatur hubungan dengan bawahan. Adapun faktor-faktor kritis yang menentukan kesuksesan dalam hal ini adalah kemampuan seorang pemimpin untuk menilai secara tepat kesiapan seorang bawahan. 2 Komponen utama dari kesiapan adalah:
• Kemampuan
Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimiliki seorang ataupun kelompok untuk melakukan kegiatan atau tugas tertentu.
• Keinginan
Keinginan berkaitan dengan keyakinan, komitmen dan motivasi untuk menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu. Berbicara soal kesiapan bawahan, kita berbicara soal tingkat kesiapan bawahan merupakan kombinasi dari berbagai kemampuan dan keinginan berbeda, ditunjukkan seseorang pada tiap-tiap tugas yang diberikan. Kuantitas kemampuan dan keinginan bervariasi dari sangat tinggi hingga sangat rendah, antara lain:
Tingkat Kesiapan 1
• Tidak mampu dan tidak ingin
Tingkatan yang bawahan tidak mampu dan hanya memiliki sedikit komitment dan motivasi.
• Tidak mampu dan ragu
Tingkatan yang bawahan tidak mampu dan hanya memiliki sedikit keyakinan.
Tingkat Kesiapan 2
• Tidak mampu tetapi berkeinginan
Tingkatan yang bawahan memiliki sedikit kemampuan tetapi termotivasi dan berusaha
• Tidak mampu tetapi percaya diri
Tingkatan yang bawahan hanya memiliki sedikit kemampuan tetapi tetap merasa yakin selama pimpinannya memberikan petunjuk
Tingkat Kesiapan 3
• Mampu tetapi ragu
Tingkatan yang bawahan memiliki kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tetapi tidak yakin dan khawatir melakukannya sendiri.
• Mampu tetapi tidak ingin
Tingkatan yang bawahan memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas tetapi tidak ingin menggunakan kemampuan tersebut.
Tingkat Kesiapan 4
• Mampu dan ingin
Tingkatan bawahan memiliki kemampuan untuk melakukan tugas seringkali menyukai tugas tersebut.
• Mampu dan yakin
Tingkatan bawahan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas dan yakin dapat melakukannya seorang diri. Berbicara tentang gaya kepemimpinan, pentingnya kemampuan seorang pemimpin dalam mendiagnosa kemampuan tidak boleh terlalu ditekankan, karena keinginan dan kemampuan bawahan bervariasi sehingga pemimpin juga harus memiliki sensitivitas dan kemampuan mendiagnosa dalam mengenali dan menghargai perbedaan-perbedaan. Tanpa kemampuan mendiagnosa, para pemimpin dapat dikatakan tidak efektif meskipun mereka dapat mengadaptasi gaya kepemimpinan untuk memenuhi kebutuhan lingkungannya. Kemampuan ini tidak akan bisa berbuat apapun dari dirinya sendiri, ia menjadi penting bagi seorang pemimpin jika pemimpin tersebut mampu mengadaptasi gaya kepemimpinannya sesuai dengan hasil analisanya. Kondisi ini merangsang munculnya suatu model kepemimpinan yang disebut dengan KEPEMIMPINAN SITUASIONAL.





g. Pemimpin yang Ideal
 Menjadikan dirinya tauladan, pemimpin yang dapat menginspirasikan dan memotivasikan bawahannya dengan menjadikan pribadinya yang pertama dan terdepan dalam melaksanakan sesuatu dan pantas di tiru.
 Komunikasi meyakinkan, menyangkut pola pikir, kepribadian, penggunaan kata-kata yang menyentuh dan menyenangkan hati dan pikitran, menggunakan kekuasaan secara tepat, serta penciptaan suasana kerja yang dapat menginspirasikan dan memotivasi yang dipimpin.
 Mengajak pada perubahan dan perbaikan, memotivasi bawahan ,berani menghadapi tantangan, mengambil peluang, memperbaiki kelemahan dan berani berjuang dan berkorban demi kemajuan organisasi.
 Menampilkan visi dan misi yang baik.
 Mengajak bawahan melihat dari perspektif baru sehingga ditemukan cara-cara untuk mencapai visi dan misi organisasi.
 Mengkampanyekan action untuk mewujudkan sebuah visi dan misi.
 Memberikan makna penting pada pekerjaan.
 Membandingkan kerja.
 Memberikan solusi.


KESIMPULAN
Seorang pemimpin harus sanggup menciptakan situasi dimana bawahan dapat mengembangkan keterlibatannya baik secara mental maupun secara emosional terhadap tujuan yang ingin dicapai. Memperbolehkan bawahan berpartisipasi, harus dengan mempertimbangkan tidak akan memberikan dampak baik bagi perusahaan maupun bawahan.
Pemimpin yang baik tidak perlu menggunakan kekuatan untuk menakut-nakuti atau intimidasi, atau mengolok-olok bawahan atau dengan permainan kekuasaan. Pemimpin yang baik mendorong bawahannya untuk melakukan yang terbaik dalam mencapai sasaran yang ditetapkan. Sasaran yang tidak terlalu jauh dicapai, sehingga bawahan merasa tidak dapat memenuhinya.
Seorang pemimpin yang baik tidak memiliki masalah dengan orang-orang yang mengikutinya. Ketika mereka melihat anda memiliki sense terhadap tujuan dan keyakinan, maka akan ditanggapi dengan serius. Jika anda berjalan layaknya orang yang tersesat dan kebingungan, maka bawahan tidakakan menghargai atau mengikuti anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar